titan Mahasiswa Pendidikan Ekonomi yang ingin sharing ilmu lewat website.

Strategi Pembelajaran Afektif

3 min read

Pemilihan strategi pembelajaran yang tepat dalam sebuah kegiatan belajar mengajar merupakan salah satu kunci bagi guru untuk menunjang tercapainya tujuan yang telah ditetapkan.

Dalam praktiknya strategi pembelajaran memiliki banyak jenis, namun pada kesempatan kali ini akan lebih memfokuskan tentang strategi pembelajaran afektif.

Apa itu strategi pembelajaran afektif?

 

Pengertian Strategi Pembelajaran Afektif

Strategi pembelajaran Afektif

Strategi pembelajaran afektif adalah sebuah strategi yang tidak hanya memfokuskan pada aspek pendidikan kognitif saja, melainkan juga bertujuan untuk mencapai dimensi yang lainnya, seperti sikap dan keterampilan.

Dengan demikian mata pelajaran apapun yang diajarkan dengan menggunakan strategi pembelajaran afektif harus bisa menghadirkan atau membentuk sikap dan mental dari peserta didik.

 

Model Strategi Pembelajaran Afektif

Model Strategi Pembelajaran Afektif

Terdapat 5 (lima) model pembelajaran afektif yang pada umumnya sering digunakan oleh seorang guru, yaitu:

 

1. Model Nondireketif

Setiap peserta didik memiliki ciri khas kemampuan masing-masing, sehingga peran guru menurut model ini hanya sebagai fasilitator dalam pengembangan kepribadian siswa.

 

Berikut ini adalah langkah-langkah dari pembelajaran nondirektif:

  • Menciptakan sesuatu yang permisif (bersifat terbuka) melalui ekspresi bebas.
  • Memberikan kesempatan pada siswa untuk mengungkapkan perasaan, pemikiran dan masalah yang sedang dihadapi, dan guru menerima serta memberikan klarifikasi.
  • Pengembangan pemahaman (insight), siswa berdiskusi, dan guru memberikan penjelasan.
  • Perencanaan dan penentuan keputusan.
  • Integrasi, siswa dapat memperoleh pemahaman yang lebih luas dan mengembangkan kegiatan positif.

 

2. Model Pembentukan Rasional

Dalam sebuah kehidupan, manusia berpegang teguh pada nilai-nilai yang menjadi acuan untuk melakukan aktivitas.

Nilai-nilai ini dapat dinyatakan secara eksplisit dan juga inplisit. Selain itu nilai juga bersifat multidimensional, yang artinya nilai ada yang relatif dan juga absolut.

Tujuan dari model pembentukan karakter adalah untuk mengembangkan kematangan berfikir tentang nilai-nilai yang berlaku di masyarakat.

 

Berikut adalah langkah-langkah pembelajaran multidimensional:

  • Mengidentifikasi situasi dimana ada ketidak cocokan atau penyimpangan menyimpang.
  • Mengumpulkan informasi tambahan.
  • Menganalisis sesuatu dengan menjadikan norma, dan prinsip yang berlaku di masyarakat.
  • Mencari solusi dengan mempertimbangkan akibat yang akan ditimbulkan.
  • Mengambil keputusan dengan berdasarkan norma dan prinsip yang berlaku di masyarakat.

Baca Juga: Materi Lengkap Strategi Pembelajaran

3. Model Mengklarifikasi Nilai

Model mengklarifikasi nilai atau sering disingkat dengan VCT (value clarification technique) diartikan sebagai model pembelajaran yang membantu siswa dalam menentukan suatu nilai yang dianggap benar untuk mengatasi suatu masalah.

Namun model ini juga memiliki sisi kekurangan yaitu, guru hanya memberikan masukan nilai yang dianggap benar tanpa memperhatikan nilai yang sudah tertanam di dalam diri siswa.

 

Tujuan dari model VCT ini adalah sebagai berikut:

a. Sebagai alat bantu untuk mengetahui kesadaran siswa tentang suatu nilai.
b. Membina kesadaran siswa tentang nilai-nilai yang dimilikinya baik itu bersifat positif ataupun negatif.
c. Menanamkan nilai-nilai tertentu pada siswa sehingga nilai tersebut bisa dimiliki oleh siswa.
d. Melatih siswa tentang bagaimana cara menilai, menerima, dan mengambil keputusan tentang masalah yang dihadapi.

 

Langkah-langkah pembelajaran VCT

Terdapat tujuh tahap pembelajaran yang dibagi menjadi 3 tingkatan, yaitu:

 

1. Kebebasan Memilih

Dalam tingkat kebebasan memilih terdapat tiga tahapan pembelajaran, yaitu:

  • Memilih secara bebas.
  • Memilih beberapa solusi.
  • Memilih setelah adanya pertimbangan yang matang.

 

2. Menghargai

Terdapat dua tahapan pembelajaran dalam tingkatan ini, yaitu:

  • Timbulnya perasaan senang dan bangga akan nilai yang di hasilkan.
  • Menegaskan nilai yang sudah menjadi bagian integral dalam dirinya di depan umum.

 

3. Berbuat

Terdiri dari dua tahap pembalajaran yaitu:

  • Kemauan dan kemampuan untuk melaksanakan.
  • Mengulangi perilaku sesuai dengan pilihan.

 

4. Model Konsiderasi

Model konsiderasi (The Conderation Model) yang dikembangkan oleh Mc. Paul menjelaskan bahwa  moral siswa terbentuk secara pribadi bukan berdasarkan pengembangan intelektual.

Dalam model ini lebih menekankan pada strategi pembelajaran yang dapat membentuk kepribadian.

Tujuan dari model ini adalah untuk mengembangkan kepribadian siswa agar bisa hidup secara harmonis, peduli, dan merasakan apa yang dirasakan orang lain.

 

5. Model Pengembangan Kognitif

Model ini dikembangkan oleh Lawrence Kohlberg yang banyak diilhami oleh Jean Piaget dan John Dewey yang berpendapat bahwa perkembangan manusia terjadi berdasarkan proses restrukturisasi kognitif yang berlangsung secara terus menerus dan berkelanjutan.

Menurut Lawrence Kohlberg perkembangan moral terbagi menjadi 3 tingkatan yang masing-masing tingkatannya terbai menjadi 2 tahap, berikut penjelasannya:

 

1. Tingkat Prakonvensional

Dalam tingkatan ini indvidu memandang moral hanya berdasarkan kepentingannya sendiri.

Artinya, pertimbangan moral didasarkan pada pandangan secara individual tanpa menghiraukan nilai-nilai yang dianut pada masyarakat.

Pada tahap ini terdapat dua tahapan, yaitu:

  • Tahap 1: Orientasi Hukuman dan Kepatuhan

Pada tahap ini perilaku anak didasarkan kepada konsekuen fisik yang akan terjadi. Artinya, anak hanya berpikir bahwa perilaku yang dilakukan itu benar dan tidak akan menimbulkan hukuman.

  • Tahap 2: Orientasi Instrumental Relatif

Pada tahap ini perilaku anak didasarkan pada rasa adil berdasarkan peraturan yang telah disepakati. Perilaku dikatakan adil apabila kita membalas perilaku yang dirasa baik.

 

2. Tingkat Konvensional

Pada tahap ini anak sudah mulai menghadapi masalah yang didasarkan pada hubungan antar individu dan masyarakat.

Sehingga pada tahap ini pula kesadaran anak mulai tumbuh bahwa perilaku yang dilakukan harus sesuai dengan norma dan nilai yang berlaku di masyarakat.

Pada tingkat konvensional terdapat 2 tahap yang merupakan kelanjutan dari tahap sebelumnya, yaitu:

  • Tahap 3: Keselarasan Interpersonal

Pada tahap ini perilaku yang ditampilkan oleh individu didasarkan pada keinginan untuk memenuhi harapan orang lain.

  • Tahap 4: Sistem Sosial dan Kata Hati

Pada tahap ini perilaku individu bukan berdasarkan pada dorongan untuk memenuhi harapan orang lain yang dihormatinya, tetapi didasarkan pada tuntutan dan harapan masyarakat.

 

3. Tingkat Postkonvensional

Tingkatan terakhir dalam model pengembangan kognitif tidak hanya didasarkan pada kepatuhan terhadap norma-norma masyarakat yang berlaku, akan tetapi didasari oleh adanya sesuai dengan nilai-nilai yang dimilikinya secara individu.

Dalam tingkat ini terbagi menjadi dua tahap yaitu:

  • Tahap 5: Kontrak Sosial

Pada tahap ini perilaku individu didasarkan pada kebenaran-kebenaran yang diakui oleh masyarakat. Kesadaran berperilaku tumbuhan karena kesadaran untuk menerapkan prinsip-prinsip sosial.

  • Tahap 6: Prinsip Etis yang Universal

Pada tahap terakhir, perilaku manusia didasarkan pada prinsip-prinsip universal. Segala macam tindakan bukan hanya didasarkan sebagai kontrak sosial yang harus dipatuhi, akan tetapi didasarkan pada suatu kewajiban sebagai manusia.

 

Kelebihan dan Kekurangan Strategi Pembelajaran Afektif

Kelebihan dan kekurangan strategi pembelajaran afektif

Kelebihan Strategi Pembelajaran Afektif

  • Membentuk watak siswa yang bermartabat.
  • Mengembangkan potensi siswa dalam nilai dan sikap.
  • Memberikan pengetahuan pada siswa tentang apa yang baik dan apa yang buruk.
  • Menjadikan siswa berprilaku sesuai dengan norma yang ada di masyarakat.

 

Kekurangan Strategi Pembelajaran Afektif

  • Tidak dapat melakukan evaluasi dengan segera, karena perubahan sikap dapat dilihat dengan rentan waktu yang cukup lama.
  • Kurangnya perhatian dalam pemberian kurikulum tentang sikap dan moral.
  • Sulitnya dalam melakukan kontrol karena dipengaruhi oleh banyak faktor.

 

titan Mahasiswa Pendidikan Ekonomi yang ingin sharing ilmu lewat website.

Manajemen Pendidikan

titan
3 min read

Pendidikan Profesi Guru

titan
2 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *